Mengenang Sang Demonstran (Soe Hok Gie In My Memory)
Kurang lebih setahun lalu, ya baru setahun lalu. Aku merasa sebenernya beum pantas menuliskan ini, nantikesannya jadi SKSD (Sok Kenal Sok deket). Aku terkesima pada sosok sang demonstran-panggilannya Gie.
Aku terkesima dan jatuh cinta pada jalan hidupnya, dan satu puisinya yang selalu membuatku bergelora, puisi yang membuatku jatuh cinta pada sosoknya:
Mandalawangi-Pangrango
Sendja ini, ketika matahari turun kedalam djurang2mu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku.
Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja
“Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
“Terimalah dan hadapilah.”
Dan antara ransel2 kosong dan api unggun jang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 djurangmu.
Aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup
Djakarta, 19-7-1966
Puisi yang aku baca dari buku mata pelajaran bahasa Indonesia, membuatku semakin ingin mengenalnya lebih dalam. Mungkin kalau dia hidup saat ini usianya sudah mencapai kurang lebih 70 tahun. Waw cukup fantastis ya? Dan jika dia masih hidup sekarang menjelma sebagai sosok mahasiswa yang aktif,punya akun facebook atau twitter mungkin aku menjadi penggemarnya yang luar biasa. Saking naksirnya aku sama Gie, aku cari sebuah buku yang memuat tentang catatan hariannya, Catatn seorang demonstra. Dengan buku ini aku lebih mengenal gie. Dan dari buku ini pula aku tahu bahwa Gie adalah seorang ateis. Agama yag dia anut sebelumnya adalah protestan. Entah mengapa dia berpaling. Dalam puisinya pernah disebutkan,
Aku begitu sedih dan kasih
Aku begitu sedih dan kasih
Ya, Tuhan (aku tak percaya Tuhan)
Berilah mereka kebenaran
(Dikutip dalam catatan seorang demonstran)
Sungguh disayaangkan memang, sosok yang begitu aku kagumi tak mempunyai Belief dalam hidupnya.
Ia yang lahir pada 17 Desember 1942 harus meregang nyawa tepat sehari sebelum ulangtahunnya yang ke 27, di Semeru. Keracunan gas pada 16 Desember 1969. Pertama ia dimakamkan di Menteng Pulo, namun tanggal 24 desember 1969 ia dipindahkan di Pekuburan Kober tanah abang. Lalu kuburannya kena gusur proyek pembangunan prasati lalu keluarga dan teman-temannya sepakat memutuskan untuk menumbuk tulang-belulang sisa jenazah Gie. Yang kabarnya Serbuknya di tebar di lembah Mandalawangi. Tempat favorit Gie.
Tahun 2005 kisah hidup Gie di filmkan oleh Riri Riza dan Mira Lesmana, salah satu cuplikan puisi yang dibacakan Nicholas Saputra (Pemeran Gie) adalah sebagai berikut
Selasa, 11 November 1969
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-angjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu.
Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah kelangit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak’kan pernah kehilangan apa-apa.
Senin, 22 Januari 1962
Mahluk kecil kembalilah.
Dari tiada ke tiada.
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Comments
Post a Comment