Membunuh Impian (Mozaik Dongeng Nestapa dari Negeri Entah Dimana yang Berserakan)

Coba cermati lagi, apa dia yang benar-benar kauinginkan?

Tak sengaja aku menemukan sore ini seperti senja 1095 hari lalu.  Aku melihatmu dalam potongan ingatan. Ah, bukan. Itu benar-benar wajamu. Terpampang dalam sebuah pengumuman di alun-alun desa. Rupanya kau sudah menjadi pendekar sakti dan dinobatkan sebagai juru pedang istana. Ada yang membuatku ngilu saat melihat tepat ke matamu. Syukurlah, jika kaujauh lebih baik, lebih tampan dan juga sehat, Impian.
                Kausudah terlalu lama jauh. Terlalu susah untuk memungutmu kembali dari laci-laci ingatanku yang mungkin saja sudah disesaki kenangan baru. tentu, aku tak mau susah-susah mengambil dirimu yang mungkin sudah terjepit, tertumpuk memoir-memoirku akhir-akhir ini. aku tak mau mengambil lagi kenangan tentangmu, tak sudi, sungguh. Aku tak mau kehadiranmu sebagai kenangan. Aku tak mau kenangan tentangmu menodai hari depanku. Sungguh, aku tak sudi.
                Aku tau, ku anggap kautelah lama sirna. Tapi ingatan itu datang seketika seperti aliran listrik yang sangat mengejutkan, lalu pergi sekejap walau masih meninggalkan rasa. Haruskah aku menemuimu untuk benar-benar yakin bahwa aku sudah tak apa-apa bila melihatmu? Haruskah aku menemuimu untuk meneguhkan hatiku bahwa aku sungguh tidak apa-apa ketika kita bertemu?
                Aku harus jujur pada diriku sendiri, bahwa kau bukanlah yang benar-benar aku rasakan. Aku hanya terjebak pada kenangan. Hanya terjebak dan membuat ekspektasi rasa yang begitu berlebihan, tentangmu.
                Aku tahu ini sulit. Tapi maaf Impian, sepertinya aku sudah yakin untuk tidak menoleh lagi kepadamu.
***
Senja sudah tenggelam di peraduan. Kini hari benar-benar gelap. Burung-burung hitam pemanggil roh jahat sudah mulai beterbangan menjelajah malam. Dilema mengambil sebuah belati dari tas kecil yang ia sampirkan di pundaknya, melemparkan ke wajah Impian yang terpampang di sebuah pohon di alun-alun desa, tepat mengenai dahinya, di tengah-tengah kedua matanya.

Hari semakin gelap. Penduduk desa pun tak terlihat lagi. Dilema tau kini saatnya dia harus pulang.

Comments