I Wanna Be Journalist


Ketika ditanya apa cita-cita saya, saya menjawab dengan yakin: “Jurnalis”. Lalu orang yang menanyakan saya tadi berkomentar, “oh, pengen jadi wartawan ya? Suka nulis?” saya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk.
Ada cerita lain di suatu seminar jurnalistik. Si pembicara yang juga seorang wartawan bertanya, “siapa yang ingin menjadi jurnalis?” Mereka yang duduk di bangku audience mengacungkan tangan, termasuk saya. “saya punya cerita” lanjutnya, “saat dulu saya sekolah di pesantren, saat itu saya ditanya apa cita-cita saya. Guru saya bercerita tentang suatu profesi yang menurut beliau sangat bijaksana. ‘jadilah kamu seorang jurnalis, karena dirimu sangat bermanfaat. Kamu memberikan informasi dan pengetahuan kepada orang banyak’ jadi pekerjaan seorang wartawan sungguh mulia” cerita sang wartawan kepada peserta seminar.
Jujur, menurut saya profesi guru jauh lebih mulia dibanding wartawan. Eits, bukan maksud saya membanding-bandingkan. Namun tentu akal bijak kita bisa menilainya sendiri. Suatu saat diri saya muncul di surat kabar lokal dengan judul, “Gina ingin jadi wartawan”. Saat itu bude saya (bahasa Jawa=kakaknya ibu) berkomentar. “jadi wartawan? Amin. Eh… jangan! Nanti kamu diculikin lagi.” Saya membatin dalam hati, “aduh,  aku bukan aktivis pemberontak..”
Dengan suara saya mengungkapkan pikiran saya. “Aku kuliah mau ambil jurusan Hubungan internasioanl, nanti bisa juga jadi wartawan” jelas saya yang sebelumnya berpikir ingin mengambil jurusan ilmu komunikasi jurnalistik, namun saya mengurungkan niat karena sesuatu, sehingga memilih jurusan hubungan Internasional. “Jangan jadi wartawan, anak perempuan cari kerja yang aman-aman aja. Kalau jadi wartawan nanti diculikin, ayo?”
Saya hanya menyeringai.
Wartawan atau jurnalis,dibayangan saya pekerjaan mereka penuh tantangan. Ya, saya suka tantangan, saya suka berada diluar asalkan sesuai dengan keinginan saya. Saya suka dialam bebas asalkan sesuai dengan naluri dan mood saya. Kalian bingung? Sudah lupakan!
Salah satu alasan, mengapa bude saya kurang menyetujui saya menjadi wartawan adalah karena beberapa wartawan lokal di kota saya sering meminta bayaran. Jadi ketika mereka ingin me-upload sebuah berita, mereka meminta bayaran kepada narasumber. Atau mereka meminta dengan alasan ingin menerbitkan surat kabar. Maklumlah surat kabar lokal.
Lho? Saya jadi bingung. Apalagi saya kenal surat kabar lokal itu. Maka dari itu, dan parahnya lagi saya belum sempat menjelaskan kepada bude saya bahwa tidak semua wartawan seperti itu. Tinggal kita yang harus padai me-manage diri, tau aturan sosial. lha wong mana ada orang yang mau dipalakin duit kayak gitu.
“Aku enggak jadi yang kaya gitu. Aku mau jadi wartawan yang benar. Nanti aku mau ngelamar jadi reporter.” Elak diriku polos.
                “kalau kamu bisa jadi reporter? Emang kita bisa milih? Kalau enggak?” Bude masih belum mau mengalah. “ya kan aku ngelamarnya jadi reporter,” tukasku.
Hening.
                Persatuan wartawan itu bagai satu tubuh. Jika satu orang membuat kerusakan maka kejelekan itu akan terasa di sekujur tubuh yang lain. Jika ada satu wartawan yang mencemarkan nama baik. Maka wartawan lain ikut terkena dampaknya. Oleh karena itu, rekan-rekan wartawan, jagalah nama baik junalistik. Jangan lupakan kode etik jurnalistik.
Ingat! Tugas kita mulia. Tugas kita adalah membuat bangsa ini kenyang akan informasi, bangsa yang tidak ketinggalan globalisasi. Kita para wartawan adalah jembatan masyarakat untuk mengetahui informasi. Kalau bukan dari kita, dari siapa? media adalah tempat kita. Maka berbuatlah demi bangsamu jangan bikin citra wartawan jelek. Cerdaskan bangsa! Hidup para wartawan!

Comments

  1. Buat blogger yang ingin menggeluti dunia jurnalistik/wartawan

    gabung yuuu jadi Kontributor

    Jadikan diri Anda... Blogger Jurnalism

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts