Sonic linguistic 2012: Demi Pena dan Segala yang Dituliskan
Serpong(19/2)–Menulis adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan ini. Bangsa Mesir kuno memulai peradabannya jauh sebelum masehi dengan menggoreskan Hieroglif pada dinding-dinding gua. Sedangkan Bumi Pertiwi sendiri baru memasuki zaman sejarah diperkirakan bada abad ke lima, setelah ditemukannya prasati kerajaan Kutai Kalimantan timur. Dapat disimpulkan bahwa peradaban berawal dari tulisan.
Menulis adalah hal yang lumrah untuk sebagian orang. Ada orang-orang tertentu yang merasa menulis itu mudah, namun ada juga yang menulis baginya sulit bukan main. Hampir semua orang di seluruh dunia bisa menulis di era globalisasi sekarang ini. Mereka bebas menuliskan apa saja yang mereka inginkan. Semua orang dapat menggoreskan pena mereka masing-masing diatas kertas. Ataupun sekadar update status di jejaring sosial. Namun satu hal, pasti tidaklah sama antara coretan yang satu dengan yag lainnya. Ini dia yang disebut isi dari tulisan itu sendiri.
Setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam menulis, untuk menjadi seorang penulis yang baik tentu harus melakukan banyak latihan. Tulisan dapat dikatakan sebagai Maha raja Ilmu dalam kehidupan ini. Karena pengetahuan yang kita peroleh kebanyakan bersumber dari tulisan. Baik kitab Suci, buku pelajaran, bahkan postingan artikel di internet pun adalah wujud dari tulisan. Luar biasa bukan tulisan itu?
Manfaat dari adanya sebuah tulisan tidak kalah pentingnya, dengan tulisan kita dapat mengungkapkan perasaan ataupun isi kepala kita kepada orang lain jika kita sukar mengungkapkannnya dalam berbicara. Dengan tulisan kita dapat memotivasi orang lain, hanya dengan tulisan pula kita bisa mengendalikan sebuah kekuasaan. Contoh keil dari hal itu adalah perebutan kekuasaan melalui sebuah tulisan, yakni Surat perintah sebelas maret antara Jendral Soeharto dan Presiden RI Soekarno tempo dulu. Sudah terbukti betapa banyak manfaat tulisan itu. Tuhan pun berfirman dalam Al Qur’an atas nama kalam. Atas nama pena, alat yang digunakan untuk menulis.
Kebanyakan orang dapat menulis karena terbiasa membaca, begitupula yang dituturkan Wandraturrahman dalam kesempatannya menjadi Coaching Instruktur kompetisi junalistik pada Sonic Linguistic 2012 Sabtu (18/2) lalu. “Penulis yang baik berasal dari pembaca yang baik dulu” tukas penulis buku “Hidup Bukan Untuk mati” yang rencananya akan diterbitkan pada April 2012 mendatang.
Kak Wandra–begitu sapaan peserta coaching clinic kepada Wandraturrahman–juga memberikan tips menulis yang menarik, yaitu diantaranya tulisan itu harus mampu memikat perhatian sang pembaca. Salah satu caranya adalah menyuguhkan tulisan yang “renyah” pada pembukaan sehingga pembaca ingin terus menikmati tulisan yang kita produksi. Jangan lupa timbulkan klimaks atau puncak masalah dari tulisan yang kita buat.
Penulis kelahiran Aceh itu juga tak lupa meberikan motivasi kepada teman-teman yang kecil hati karena merasa tidak mempunyai bakat menulis, “Kehidupan itu adalah misteri, jika kita tidak pernah memulai kita tidak akan pernah tau”
Tertarik untuk menjadi penulis? Jadilah penulis yang besar dimana karya-karya yang kita ciptakan mampu menjadi sumber referensi untuk peradaban. Mulailah dari sekarang, ingat emas yang indah tak luput dari proses penempaan. Jadilah penulis yang istimewa, yang karya-karyanya meberikan manfaat kebajikan. (gin)



Comments
Post a Comment