Amblyopia, Sebuah penyakit?
Merasa jarak
pandang jauh mulai terganggu, baru memutuskan menggunakan kaca mata saat menginjak
tahun ketiga duduk di bangku sekolah menengah pertama, namun setelah memakai
kaca mata, penglihatan saya belum juga terbantu. Ada apakah dengan mata saya?
Amblyopia
atau saraf mata malas. Saya baru tahu bahwa saya salah satu orang penderita amblyopia
di saat saya kelas sebelas, atau kelas dua SMA. Ya sekitar rentan waktu itulah
kira-kira. Saya kemudian bertanya-tanya apa itu amblyopia?
Amblyomhia atau lazy eye atau mata malas adalah kelainan pada mata yang
menyebabkan mata sulit melihat karena kerusakan saraf. Saat menerjemahkan
gambar, otak akan memilih dari mata yang lebih kuat dan mengabaikan mata yang
lemah.
Berkali-kali saya ke dokter mata, saya
merasa tidak pernah mengenakan lensa yang cocok. Saya bisa menghabiskan waktu
satu sampai satu jam setengah di ruang pemeriksaan mata hanya untuk mencari
ukuran lensa yang tepat. Sampai suatu hari ketika saya berusia 16 tahun, dokter
yang memeriksakan mata saya cukup kesal karena saya tidak berhasil melihat
angka-angka yang tertera pada layar. Ketika lensa dengan minus besar diuji coba
pada mata saya, saya malah merasa aneh, pusing dan tetap tidak membantu. Jika minus
lensa kecil yang diberikan itu juga tidak membantu. Alhasil, pemeriksaan saya
yang terakhir sepakatlah kami bahwa saya minus 2,75 dan 2,5 serta keduanya silender
1,5 (tepatnya saya lupa).
Saya masih ingat benar kejadian itu,
sebab di ruang pemeriksaan saya menangis, haha. Saya dipaksa untuk menyebutkan
angka atau huruf apa yang tertera, namun hasil yang saya sebutkan selalu salah.
Mungkin dokternya saat itu juga sedikit kesal, karena waktu yang saya habiskan
cukup lama. Kemudian saat konsultasi dan tangis saya mulai mereda, ia
menanyakan usia saya. Sayangnya, untuk terapi, usia saya dikatakan telah “terlalu
matang”. Jika keadaan ini bisa dideteksi lebih awal, mungkin terapi saya bisa
dilakukan lebih efektif. Terapi sederhana yang dokter sarankan adalah menutup
salah satu mata untuk memaksa saraf mata bekerja lebih keras dan fokus. Saya
juga belum tau pasti, apakah kedua mata saya digolongkan amblyopia atau hanya
salah satunya.
Sebenarnya, saya sudah mulai merasa
harus mengenakan kacamata saat kelas lima SD. Sebagai anak kecil hal itu tak saya hiraukan. Saya baru merasakan semakin sulit melihat sejak kelas dua SMP. Namun,
sangat disayangkan penangannya baru dilakukan menjelang saya SMP tingkat akhir.
Bukan menyalahkan keadaan atau lingkungan, namun kepekaan orang tua di sini
seharusnya berperan penting.
Baru saat kelas tiga SMA, saat saya
memeriksakan mata saya di salah satu rumah sakit swasta di kawasan Cengkareng, asistan
dokter di rumah sakit itu juga menyayangkan keterlambatan penanganan amblyompia
pada diri saya. Akhirnya ia merekomendasikan lensa khusus dengan besar minus
dan silinder yang sudah disesuaikan. Selanjutnya kehidupan saya jauh lebih
baik. Saya mampu melihat dengan cukup
jelas.
Sungguh tidak enak jadi seorang
amblyopia. Orang-orang mengira bahwa setelah mengenakan kaca mata seharusnya
penglihatan saya sudah jauh lebih baik. Tapi ternyata tidak. Saya masih harus
fokus beberapa lama saat memandang sebuah tulisan. Hal yang paling tidak enak
saat SMA adalah saya harus mendengarkan rumus-rumus IPA dalam pelajaran fisika,
kimia, bukan melihatnya. Padahal setelah psikotes, cara belajar saya adalah
visual. Saya harus mendengarkan rumus buffer, penyetaraan kimia, gelombang di
fisika, integral dalam matematika, limit dan lain-lain. Mungkin saat SMA saya
lebih banyak merepotkan teman-teman saya, karena PASTI saya akan meminjam
catatan mereka. sedihnya lagi, saya tidak duduk di bangku paling depan, dan
betapa menyakitkan masa-masa itu. Bersyukurnya masa-masa itu telah berlalu dan
saya mampu melewatkannya dengan baik.
Setelah lulus SMA saya berencana untuk
kuliah, mengetahui keadaan saya seperti ini saya menjauhi jurusan-jurusan yang
berkaitan dengan eksak atau komputer. Walau dulu masih ada ambisi untuk masuk
ke fakultas kehutanan. Sempat timbul kegelisahan bagaimana nasib saya di bangku
kuliah, bagaimana saya bisa membaca atau memperhatikan materi jika jarak tempat
duduk saya dengan white board begitu
jauh. Oleh sebab itu, saat kuliah saya berusaha duduk di barisan depan,
terkesan rajin, tapi sebenarnya karena kebutuhan. Ya semua itu ada hikmahnya.
Belakangan ini saya merasa penglihatan
saya semakin berkurang. Mungkin minus mata saya meningkat. Entah apa yang
terjadi di masa depan, pun saya sudah mulai mempersiapkan diri jika nanti akan
kehilangan penglihatan. Saya berusaha mempersiapkan diri semenjak vonis itu saya dengar. Mungkin jika
sudah batas waktunya, operasi bisa sedikit membantu. Tapi saya tetap
mempersiapkan diri untuk menerima risiko paling fatal.
Beberapa waktu ini saya mulai
kepikiran, “ada tidak ya komunitas penderita amblyiopia di Indonesia?” saya
mulai mencari tahu dari internet. Sepertinya belum ada. Ingin rasanya komunitas
itu terbentuk, mungkin kami bisa saling bertukar informasi. Hal tersebut
mungkin dikarenakan penderita amblyopia tidak banyak dan biasanya terdeteksi di
saat anak-anak.
Jadi,
jika Anda menemukan seseorang yang sudah mengenakan kaca mata tapi masih merasa
sulit dalam melihat, tolong pahami. Mungkin ia salah satu penderita amblyopia. Sangat
disayangkan pula, publik belum mengetahui banyak tentang amblyopia ini.
Tak ada yang perlu disesalkan
berkelanjutan, toh saya masih semangat menata masa depan, terlepas dari
keburukan apa yang bisa jadi menimpa diri saya. Toh hidup untuk memberi
sebanyak-banyaknya, bukan untuk mengeluh sebanyak-banyaknya. Semangat!


Hey, salam kenal. Aku jg penderita amblopia, keluhannya sama persis kaya kamu. Boleh minta kontak ga? Line, whatsapp, bbm atau apapun kalo boleh. Syp tau kita bisa bertukar informasi hehe. Makasih
ReplyDeleteHalo andrian, bisa add line saya? guskrisnanegara atau 085792786780
ReplyDeleteSaya juga amblyopia
Assalamu'alaikum... saya juga seorang penderita Amblyopia sama seperti anda, bahkan mungkin amblyopia yang saya derita bisa dikatakan susah parah. Untuk itu saya sangat membutuhkan informasi sebanyak-banyaknya tentang itu. Saya merasa sangat senang jika memang terbentuk komunitas bagi penderita seperti saya, karena mungkin bisa bagi kita untuk saling bertukar informasi.
ReplyDeleteMaaf sebelumnya, saya mau tanya pada saudari Gi Mardani. Lensa khusus yang direkomendasikan pada anda waktu itu apa maksudnya khusus untuk mata amblyopia?
ReplyDeleteHalo kak Salam kenal. Kebetulan saya baru "revisi" blog ini lagi. Bukan lensa khusus amblyo sepertinya, tapi ukuran semaksimal mungkin yang bisa membantu penglihatan saya
Delete