Surat Malam kepada Pagi

Selamat malam Pagi, ah aku harap ini tak terlalu senja untuk mengucapkan selamat malam padamu.
Pagi, apa kabarmu sekarang? Kuharap kau selalu bahagia, selalu akur, baik dengan setiap harapan maupun doamu.

Pagi, aku ini malam. Kau sudah tau kan? Jadi jangan kau tanya kepada embun di mana aku jika kau sempat kehilanganku.
Pagi, aku bukan siapa-siapa, sungguh.
Aku bukan cahaya mentari yang setiap hari mendampingimu, atau suara burung camar yang selalu mengucapkan selamat pagi kepada udara di kala fajar. Bukan juga.

Pagi, pernahkah kau berpikir mengapa kita sejauh ini? Ya, karena kau Pagi dan aku Malam. Kita hanya bertemu pada bait-bait senja yang putus, sekilas, sepintas.
Lantas Pagi, apakah kau mengerti apa itu pagi dan apa itu malam? Sebab aku tak pernah mendengar jawabanmu dari alunan gagak ketika memulangkan mentari ke peraduan.
Jangan tuntut aku menjadi pagi, Pagi. Sekali-kali jangan. Sebab tempatmu dan tempatku memang sudah dijalurkan begini. Cukuplah kita menjadi sore di ujung waktu, atau menjadi subuh yang selalu hikmat di awal hari.
Aku tak pernah memintamu menjadi Malam. Sungguh.
Dan satu hal yang mesti kauingat. Bila kauanggap suratku ini kotor, aku ada di dalamnya. Ya aku bagian dari kekotoran itu.
Aku tak ingin mengikatmu pagi, dan tolong jangan merasa tertahan. Sebab aku tak pernah menahan. Karena aku tahu kita adalah sebuah keragu-raguan.
Pagi, bisakah kau baca lebih banyak lagi tentang Malam?
Ah sudahlah tidak usah.

Tapi Pagi, pertemuan adalah kesadaran dalam saling memahami, saling mengerti. Lantas, apakah kita selama ini?
Aku tak tahu berapa lama waktu akan bertahan. Tetaplah menjadi Pagi seperti yang kauinginkan. Dan aku berusaha menjadi malam yang hangat di kala dingin, dan yang mendinginkan di kala panas.
Aku Malam dan kau Pagi.
Sekali lagi, kita hanya bertemu pada bait-bait senja yang putus.
Aku undur diri, Pagi.
Salamku, semoga kau tak merindukan
Malam yang kepagi-pagian.

Comments

Popular Posts