Dongeng Nestapa dari Negeri Entah Dimana (Mozaik 2)
Surat itu datang siang hari, bunyinya hanya Dilema?. Dilema pun heran, alamat surat itu begitu asing, lantas ia hanya membalas, maaf? ke alamat si pengirim. Seminggu kemudian balasan surat lain datang, tulisannya. Maaf sepertinya alamat suratku salah. Sejak saat itu Dilema tak pernah memedulikan lagi surat itu.
Sampai akhirnya, Dilema bertemu teman lamanya, sebut saja si Periang. Periang adalah teman Dilema dan Impian-tak lupa juga Bayang-bayang-ketika berburu di hutan dulu. Periang sebenarnya mengetahui perihal hubungan terselubung antara Dilema dan Bayang-bayang, ada suatu masa di mana mereka sama-sama menyimpan rasa. tapi jujur saja dari dalam hati Dilema yang paling dalam ia tak mengakui itu, karena tak pernah ada pernyataan dari Bayang-bayang, toh jika itu benar, biarkan sampai waktu yang tepat. Tapi disamping itu semua ada rasa paling dasar yang masih disimpan Dilema terhadap Impian,
Jadi selama ini, Dilema memang selalu hidup dalam ketidak pastian cintanya, Dilema masih dihantui Bayang-bayang. Ya, Impian yang mengajarinya seperti ini-secara tak langsung. Impian mengajari Dilema betapa jangan pernah berharap dengan sesuatu yang tak pasti. Dan jangan pernah seolah-olah merasa tersakiti dengan sesuatu yang sama sekali tak ada pikiran untuk menyakitimu, kau mungkin yang salah paham dan terlalu berharap.
Suatu masa, Impian dan Dilema pun harus berpisah. Mereka berdua sama-sama pergi meninggalkan negeri Entah DImana untuk mencari jalan hidupnya masing-masing. Tak ada ucapan selamat jalan dari Impian, tak ada salam perpisahan bahkan pelukan sebagai seorang sahabat, tak ada. Memang seharusnya hal seperti itu tak pernah ada di antara kehidupan DIlema dan Impian.
***
Lebih dari 365 hari Dilema mengobati luka-yang ia buat sendiri karena terlalu mengharapkan Impian-nya. Mungkin Dilema tak sadar dengan kesempatan-kesempatan di depan matanya. Di negeri Aksara ia berlabuh, berguru dengan seorang pendekar sakti yang punya seribu satu macam kitab. banyak sekali. Dilema pun harus mempelajari semua kitab itu jika ia mau jadi orang yang berguna.
Tersebut pulalah di tempat itu Harapan, seorang laki-laki yang usianya lebih tua sedikit dari Dilema. Seorang kaya yang memang berkeinginan untuk berguru dengan si Sakti. Dia laki-laki yang dengan mudah membuat lelucon namun cerdas, dingin dan misterius, sehingga membuat Dilema sedikit penasaran. Ya Harapan adalah satu-satunya teman Dilema sebagai sama-sama murid guru Sakti.
Ah, kenapa?
Ah, kenapa?
Batin Dilema.
Sikap Harapan yang dingin misterius sama seperti sikap Impian. Haruskah sudah sejauh ini aku tidak bisa berpaling?
Dilema bertanya pada hati kecilnya sendiri.

Comments
Post a Comment