Evaluasi

Gue tipe orang yang ketika punya pikiran harus segera dikeluarkan, entah tulisan atau lewat omongan. Kalau engga ditulis, gue jamin gue bisa ngomong sendiri bermenit-menit. Ngomong sama diri gue sendiri. Bersuara dan bernada. Ngomong hal yang terlalu menumpuk di kepala gue.

Kali ini gue mau evaluasi diri, ini agak mengganggu sih, makanya pada akhirnya gue tulis. Beberapa pelajaran yang gue dapet belakangan. Pertama soal hati.
Setelah bertahun-tahun gue menikmati kesendirian, pada akhirnya gue dekat dengan seseorang, tapi sekarang udah enggak lagi dan gue merasa kembali menjadi diri yang menikmati kesendirian.

Walaupun rasanya gue berakhir dengan cara yang tidak baik dengan orang ini, gue merasa mendapat pelajaran yang berharga, pengetahuan baru. Kalau gue mau jujur, ingin rasanya gue jabarin semua pemikiran gue. Tapi buat apa? Toh kalau suatu hari lu baca pejabaran gue itu pun pasti lu tetap punya alasan bahwa realitanya engga seperti yang gue pikirin. Dan gue pikir-pikir, itu engga worth it. Walaupun dia bilang gue "engga tahu apa2". Kala itu, rasanya pengen gue ceplosin, lah dikata Tuhan, tahu segalanya. Tapi momennya sepertinya engga pas. karena gue merasa dia tidak menyadari kesalahannya di mana. Dan dia pun "engga tahu apa2" soal yang gue tahu.

Gue engga merasa menjadi pihak yang selalu bener kok, gue tahu saat gue sama dia pun pasti gue punya kesalahan yang bikin hatinya engga enak. Gue sadar posisi manusia sebagai tempatnya salah. Tapi kesalahan-kesalahan itu yang seharusnya bisa dipahami dan dijadikan evaluasi dengan cara didiskusikan, sepertinya sudah ditutup peluangnya. Dan gue tidak mungkin memperjuangkannya sendirian. Gue ogah. Engga sudi, Emang dia sekeren apa untuk gue perjuangin?

Ya intinya gue  setelah udah engga sama dia, gue dikembalikan melihat visi-vsi gue dulu. Gue bersyukur, punya kesempatan yang sangaaaaaaaaaaaaaaaaaat luas untuk kembali menata hidup. Memilih partner yang lebih tepat lagi. Visi yang kata orang terlalu idealis. Di mana gue berpandangan menikah untuk melahirkan generasi-generasi kece dengan partner yang kece juga. untuk membuat dunia lebih kece, wkwkwk. Bahagia dunia akhirat. (Muluk banget kan?)

Dan partner "kece" bagi gue adalah bisa "mecintai dia karena Allah". Jika suatu hari nanti gue menemukan titik jenuh, dan gue menemukan 1001 alasan buat engga sama dia, gue masih punya 1 alasan untuk bertahan, ya itu, "karena Allah tadi". Walaupun gue pernah ditanya temen "karena Allah lu yg kayak apa Gina? Ah lu mah suka buat pemahaman sendiri," wkwk tapi ya begitulah keyakinan gue.

Kala itu pun gue berpikir, partner "kece" itu engga mungkin gue dapatkan dengan cara pacaran. Saat itu gue pun bertanya-tanya, apa jalan yang sekarang gue jalanin ini bener? Partner yang bisa menuntun gue, ibu dan bapak gue ke jalan yang mendekati Tuhan. Sebenernya gue merasa diri gue egois sih, gue menjadi orang penuh dosa tapi berharap dapet sesuatu yang baik gitu, yakeles Gin! Dan sekarang gue berpikir, mau sampe kapan gue nunggu gitu terus? Kenapa engga gue yang menjadi jalan dia dan keluarganya buat lebih mendekat kepada Tuhan? Toh berarti gue harus memperbaiki diri, liat lagi prinsip keyakinan gue, sedalam apa gue memahami syariatnya?

Mungkin sekarang gue masih bersemangat menyendiri. Entah beberapa bulan ke depan gemana. Tapi semoga langkah gue kali ini benar-benar dikuatkan. Gue engga tahu lagi sih, dan gue agak meragukan kesetiaan laki-laki. Karena bagaimana pun, berdasarkan role models lingkaran hidup gua, laki-laki itu aneh, saat mereka udah mendapat apa yang mereka mau pun masih sangat besar peluang mereka untuk melirik yang lain. Dan gue mulai engga percaya dengan lagu-lagu yang menjunjung perempuan, misal gue denger lagu Akad nih, terus gue mikir, serius cowok kayak gitu ada? Atau lagu-lagu romansa kesetian cowok ke ceweknya, lagi-lagi gue berpikir, seriusan cowok kayak gitu ada?

Ya itu bukan laki-laki aja sih, tapi manusia. Semua manusia kayak gitu. Engga pernah puas. Tapi gue pribadi sebagai manusia yang berjenis kelamin perempuan merasa lebih kecil peluangnya melakukan itu. So, kalau misal ada laki-laki yang kelihatannya lebih keren dari laki gua ya bukan berarti gua harus berpindah ke laki-laki yang kelihatannya lebih keren itu, tapi yang harus gue lakukan ya menyamakan pandangan, menyamakan visi, membuat goal yang lebih baik dengan pasangan gue (ini alasan kenapa gue bisa sama dia dulu, gue percaya dia laki-laki yang bisa diajak berproses bareng, dan mungkin kepercayaan gue terlalu muluk, ternyata dia memilih berproses dengan yang lain, ketika gue dan dia renggang... secepat itu dia beranjak, atau dia merasa gue bukan partner yang tepat. Tapi menagapa lu berkomitmen sama gue? Kenapa lu pergi dengan tidak menganggap gue bukan manusia? Kayak patung yang engga punya perasaan dan tidak dihargai. Padahal dari awal gue sangat terbuka mengizinkan lu pergi dengan cara yang "baik", dan lu malah memilih jalan yang sangat -sangat buruk. You should get ashamed with yourself. Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz). Dan goal gua dengan pasangan gua tidak harus sebagaimana orang lain lakukan. Inget men kita harus menemukan bahagia kita sendiri, parameternya bukan orang lain.

Serius ini pelajaran berharga buat gue untuk tidak mudah menaruh kepercayaan pada orang. Selanjutnya? Gue pasrahkan hati gue sama Tuhan aja. Engga ngerti cara mencapainya gemana lagi.

Comments

Popular Posts