Kaleidoskop
"...jika terjadi gempa besar
sekali, lalu disusul air laut yang surut cepat sekali hingga menjauh, segera
lari ke tempat yang tinggi, karena smong akan terjadi. Air laut tumpah ke
darat...”
Begitulah
petikan dongeng yang dibawakan Agus Nur Amal dalam siaran acara berita
memperingati sepuluh tahun peringatan Tsunami Aceh, di salah satu televisi
swasta Desember 2014 lalu. Pendongeng asal Aceh yang lekat disapa PM Toh ini
memang kerap kali tampil di televisi untuk menceritakan dongeng-dongeng, atau
sekadar menceritakan kisah-kisah tertentu, baik yang berhubungan dengan Aceh
atau pun bukan.
Bercerita
tentang Aceh, masih jelas dalam ingatan ketika gempa 8,9 skala richter diikuti smong meluluhlantakkan Kabupaten Simeulue
sampai ke Banda. Air laut menyisir setiap sudut serambi mekah itu. Tahun 2016,
sudah 12 tahun berlalu, ternyata masih meninggkalkan trauma bagi penduduknya.
Sebab, walau 12 tahun berlalu, tepat di bulan Desember gempa kembali
mengguncang tanah rencong pada 11 Desember 2016.
Sebagai
bangsa yang katanya bertanah air yang satu, akankah kita juga merasakan
keprihatinan yang sama? Merasakan guncangan yang mereka rasakan? Guncangan yang
seharusnya juga dirasakan sepanjang nusantara terbentang. Tetapi apakah kita
menyadari bahwa mendekati penghujung tahun ini, bukan hanya gempa Aceh yang
mengguncang Indonesia. Tanah surga ini sebenarnya juga sedang digoyangkan oleh
guncangan-guncangan lain. Guncangan yang bisa jadi menimbulkan keretakan di
sana-sini. Rekahan-rekahan itu mulai terlihat di permukaan dinding ke-bhinekaan.
Guncangan yang bisa jadi disebabkan perang kepentingan, tak kasat mata, seperti
ada kelompok dalam kelompok yang setiap kelompoknya membawa keinginan
masing-masing.
Guncangan-guncangan
lain di Indonesia sepertinya juga terjadi pada 4 November 2016 dan 2 Desember
2016. Tidak ada korban jiwa secara tersirat, mungkin yang ada ialah
korban-korban ideologi yang dipaksakan? Korban kepentingan? Atau korban karena
ketidaksamaan sudut pandang?
Orang-orang
biasanya selalu bergembira di akhir tahun. Bukan. Bukan karena waktu sudah
habis, atau karena isu tentang prediksi-prediksi kejadian di tahun depan oleh
paranormal yang selalu ditampilkan infotaiment.
Orang-orang seharusnya bergembira menyambut kesempatan baru berupa perpanjangan
waktu. Seharusnya kita menyambut tahun baru dengan penuh suka cita, meredam
keguncangan, menyusun hidup dengan visi yang sudah ditata.
Seharusnya yang kita
siapkan bukan hanya pengukur gempa atau sekadar peringatan tsunami. Tetapi juga
juga fondasi dan bangunan yang dirancang sedemikian rupa agar lebih kokoh, agar
lebih tahan ketika diguncang gempa. Ya, jadi yang kita butuhkan bukan hanya
sekedar peringatan. Ketika terjadi guncangan yang kita butuhkan adalah fondasi bangunan yang lebih kokoh agar tidak
mudah retak, bukan?
*)Dibuat sebagai tugas matakuliah Penulisan Kolom

Comments
Post a Comment