Psikologi Status
Sangat disadari, orang menulis status di sosial media pastilah berkaitan dengan keadaan psikologisnya.
Penalaran ini dimulai ketika saya mengamati lini masa. Ada dua tipe. Pertama, orang membagikan sesuatu di sosial media karena faktor dari diri sendiri. Kedua, membagikan sesuatu yang bermanfaaf untuk circle di sosial medianya. Tapi lebih sering bentuk yang pertama, terutama status dan foto selfie.
Kebanyakan dari kita mengatakan ‘tidak bisa menulis’. Tapi ternyata, kita sangat-sangat membutuhkan medium tulisan untuk mengungkapkan isi kepala kita. Contoh ringannya, menulis status di sosial media, caption foto di insta, atau bahkan bikin tulisan di storyIG. Yakan? Jadi jangan bilang engga bisa nulis. Nulis itu alamiah bagi yang tidak menderita kesulitan tertentu (misal disleksia).
Nah sekarang, apa kaitan menulis dan psikologis status? Sebagai orang yang juga pernah membuat status, ada keinginan agar pikiran kita diketahui orang lain.
Menurut saya, ada beberapa orang yang menulis status di sosial media untuk: 1. Beropini, 2. Ngode, 3. Cari perhatian.
Tipe-tipe orang yang beropini adalah mereka yang membutuhkan ruang untuk menyampaikan pendapat atau gagasan mereka. Keinginan tersebut biasanya muncul karena 'kegerahan’ melihat suasana di lini masa yang cenderung membahas topik yang sedang in. Dan menurut saya itu baik. Semua orang bebas berpendapat bukan?
Tipe yang kedua, ngode, biasanya orang-orang ini adalah tipe orang-orang yang sungkan untuk mengatakan apa yg mereka mau ke orang yang dituju. Alasannya banyak, karena engga berani, atau berharap muncul nuansa-nuansa di ftv-ftv yang bikin jantung degdegan, atau lagi berharap orang yang ditujunya sebagai dukun, bisa memahami apa yang dia mau tanpa harus bilang, atau juga nih, dia ingin mengungkapkan sesuatu tanpa ingin membuat orang yang dituju tersinggung.
Tipe orang yang ketiga, cari perhatian alias caper. Tentu ada berbagai macam caper ya, ada yang emang butuh perhatian , biar ditanya 'kenapa?’ Atau sekadar biar orang tau 'kalau aku lagi kenapa-kenapa’. Orang-orang tipe ini sebenernya cukup membutuhkan orang-orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Dapat disimpulkan, ketika ada tipe-tipe orang yang menulis status kalau mereka 'sedang dalam keadaan tertentu’, mereka sedang tidak ada teman yang bisa dijadikan tempat cerita, atau mereka tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya lagi untuk dijadikan tempat bercerita, berbagi keluh kesah, dan mendiskusikan solusi.
Semua penalaran ini based on experiences. Jujur aja, iya. Saya pernah merasakan bagaimana saya geregetan dengan isu yang muncul di lini masa. Maka saya beropini. Saya pun pernah juga membuat status untuk memberikan kode kepada seseorang. Dan saya pun pernah berada di posisi tidak mempunyai tempat diskusi, sehingga saya harus mengumbar keadaan saya (saya lapar, saya sakit, saya sangat galau, saya sehat, saya bahagia (LOL, peace)) di sosial media.
Sosial media memang punya kita. Terserah sih mau dijadikan apa. Yang jelas, jika kita mau menebar kebermanfaatan, usahakan lakukan kontrol diri dengan hanya membagikan hal-hal yang bermanfaat. Kalau masih ada keinginan menumpahkan pikiran yang isinya negatif, coba tanya ke diri kita, di mana orang-orang terdekat kita (bisa ortu, sahabat, gebetan, pacar, mantan-mungkin). Atau mungkin kita sendiri yang menjauhkan mereka semua (orang-orang yang peduli sama kita) dari diri kita, padahal mereka peduli, tapi kita malah membuat tameng. Dan saat mereka benar-benar pergi karena takut mengganggu keadaan kita, kita malah menganggapnya mereka tidak peduli pada kita. Hey! C'mon bradeh!
Nb: engga salah nulis status, tulis aja apa yang kamu mau. Apalagi kalau itu bisa meringankan bebanmu. Kadang keresahan kita malah bisa jadi pelajaran buat orang lain. Dan bisa jadi mereka memberikan saran kepada kita (tentu sih ini tingkatan di mana kamu udah ga punya temen buat sharing).

Comments
Post a Comment