Berdoa lekas menjadi sarjana

Saya bertanya kepada diri saya sendiri, "mengapa saya harus lekas lulus kuliah?"


Apa jawabannya,
Untuk segera mendapat pekerjaan?
Untuk segera punya penghasilan sendiri?
Untuk segera foya-foya di masa muda?
Untuk membahagiakan orang tua?

Ternyata tidak hanya itu, atau lebih tepatnya bukan itu-saja. Saya harus lekas lulus kuliah karena untuk mengobati iri hati.

Ya, saya iri setiap hari harus mendengar printer berbunyi, mencetak revisi skripsi atau sekadar draft skripsi-yang bukan milik saya.
Saya iri dengan griliya media sosial yang kerap kali memunculkan foto wisuda teman seumuran.

Jadi, belakangan ini saya sudah mulai mengerti mengapa Tuhan mengharuskan saya menjadi satu dari pembayar UKT golongan tertinggi di fakultas: agar saya tahu diri.

Kalau saja, saya kala itu harus membayar ukt golongan menengah, saya yakin akan sangat betah jadi anak kuliah.

Saya harus tahu diri untuk jadi mahasiswa yang tak lagi disokong beasiswa bulanan. Dan mengharapkan bapak-ibu sebagai satu-satunya bantuan.

Oia, satu lagi. Saya harus segera lulus kuliah karena sudah merasa cukup bosan dengan fase hidup di tahap ini. Walau saya akui, fase semi menganggur begini adalah fase hidup yang terlalu asik untuk dinikmati.

Ndang lulus le

Comments

Popular Posts