Lombok: Oh ini tempat yang biasa gue liat di tv dan internet!

Mungkin gue akan buat beberapa tulisan soal Lombok, mau nulis soal para winner dan programnya juga rencana. Tapi di postingan kali ini ceritanya mau berbagi cerita kesan pesan sampe di Lombok.

Sejujurnya gue bersyukur banget kepada Allah Swt. Gileee bro, empat dari tiga "pritilan" do list gue terkabul! Dan dua di antaranya: "tahun ini mau naik pesawat" dan "mengunjungi Aceh/Belitong/Lombok". Syukur yang tiada putus pas bener-bener bisa nginjekin kaki di Lombok. :")

Secara ya, harusnya perjalanan ini tuh dilakukan akhir November, but tanpa kita bisa apa-apa ya, Gunung Agung meletus, cuaca buruk, jadilah ditunda sampai pertengahan Desember. Gue penasaran sih, se-keren apa Lombok, apa tv dan internet itu bener? Dan ternyata... gue nyesel ke Lombok.

Nyesel cuma sebentar! Nyesel kalau cuma sekali, dan gue harus balik lagi!

Banda Udara Internasional Lombok (Bego deh gue, kenapa enggak foto yang ada tulisannya gitu, sense of fotografernya kurang banget)

Pertama kali nginjekin kaki di pulau Lombok sekitar pukul 11.30 WITA. Kesan pertama sampai Praya: "Lombok panas, wey".

Dari Praya gue dan rombongan langsung menuju desa Ende, salah satu desa adat di Lombok. Sebenarnya gue kira kita bakal ke desa Sade, eh ternyata beda desa. Okelah, enggak apa. Berarti gue nemu satu alasan buat balik ke Lombok: gue harus ke desa Sade dan ikut melantai.

gapura Kampung Sasak Ende
Melantai? Iya, masyarakat Sasak membangun rumah mereka dari dengan tembok kayu, atap daun kelapa, dan lantai dari campuran tanah liat dan kotoran kerbau. Nah, untuk menguatkan lantai mereka lagi, mereka harus sering-sering "membersihkan" lantai dengan kotoran kerbau, hal itu disebut melantai.

Oia, pertama kali kami tiba di desa ini pun langsung disambut dengan musik tradisional dan dikalungkan semacam kain khas setempat.

Di desa adat Ende ini, wisatawan akan dijelaskan sedikit filosofi hidup masyarakat Sasak Ende. Di antaranya mata pencaharian masyarakatnya, tarian tradisional, rumah adat, dan peresean.

Satu  cita-cita gue yang juga kesampean adalah liat peresean, walau sebagai atraksi budaya sih, bukan yang beneran pas lagi ada festival atau pertandingan. Peresan asal katanya perisai, nah peresean ini salah satu tarian tradisional Sasak. Kalau kata mas-mas pramuwisata nih, peresean biasa dimainkan untuk meminta hujan, semakin banyak darah yang keluar saat peresean, masyarakat percaya hujan yang turun juga semakin deras.

Nah setelah nonton peresean, kunjungan pun berakhir, kami boleh foto-foto dan sempet ngobrol-ngobrol sama warga setempat. Gue pun ngobrol sama salah seorang ibu muda, cerita sedikit soal merari. Merari itu salah satu "kegiatan" adat yang harus dilakoni kalau masyarakat Sasak mau menikah. Merari berarti membawa lari calon mempelai wanita ke rumah orang tua laki-laki. Dulu, merari dilakukan karena banyak kesenjangan sosial di masyarakat adat, salah satunya kasta. Saat ini, merari menjadi tradisi yang tidak jua ditinggalkan, hanya saja sudah ada "koordinasi" dulu antara calon mempelai laki-laki dan orang tua perempuan.

Setelah puasa ngobrol dan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan.... tunggu tulisan berikutnya ya

Nb: btw gue liat bocah ini di salah satu instagram orang, pengen foto sama anak-anak kecil suku Sasak, gitu mikirnya. Dan... kemarin gue liat dia langsung pakai matakepala sendiri


Comments

Popular Posts