Lombok: Saya Harus Balik Lagi!

salah satu pemandangan dari bukit merese

Ada beberapa hal yang membuat saya ingin mendatangi suatu tempat. Pertama, karena saya membaca tempat-tempat itu di buku, saya kagum dan saya penasaran. Suatu hari saya harus ke tempat-tempat yang pernah ditulis di buku. Kedua, karena teve dan kata orang. Lombok menjadi tempat yang ingin saya kunjungi karena alasan kedua.

Sebenarnya, selain Lombok saya juga menaruh kagum pada Bali. Alhasali, saya kagum pada Lombok dan Bali. Saya merasa kagum  (atau sebenarnya iri) kepada orang Bali dan Lombok yang diberikan nikmat keindahan alam yang begitu menawan. Mungkin saya hanya orang kota yang terlalu norak dengan laut dan gunung yang masih asri. Saya bertanya-tanya, bagaimana caranya orang Bali dan Lombok bersyukur atas anugerah itu semua? Mungkin ini terbaca berlebihan. Toh di kampung halaman saya nyatanya juga masih banyak tempat asri. Aih, saya hanya merasa bisa melampaui limit dalam diri saya ketika bisa mengunjungi tempat-tempat jauh.

Lombok, saya harus balik lagi. Kenapa? Karena kata orang memang benar, Jangan ke Lombok nanti enggak mau pulang! Bak arwah penasaran yang belum kelar urusannya, saya juga punya urusan yang belum selesai. Awalnya saya membangun mimpi saya bertahap, saya bisa mengunjungi bukit pergasingan dan kedua bisa melihat danau Sagara Anak di Rinjani. Nyatanya, saya tidak bisa menggapai keduanya itu. Oia, ngomong-ngomong soal Rinjani, saya dulu pernah bikin cerpen yang nama tokohnya Semeru dan Rinjani. Saya kira saya bisa bertemu Rinjani kemarin, ternyata kecil saja kemungkinannya.

Tapi satu sisi saya puas, dalam waktu singkat itu, kami nyaris bisa mengelililingi pulau seribu masjid itu. Hanya Lombok bagian utara yang belum kami sentuh.
Kami memulainya dari bandara di Praya, kami mengunjungi desa adat yang letaknya tak jauh dari bandara. Kami ke sejumlah pantai di kota, kami ke Mandalika yang baru saja diresmikan Presiden RI menjadi Kawasan Ekonomi Eksklusif (KEK), kami mengunjungi Pantai Kuta, Pantai Tanjung Aan plus bukit Merese-nya, tak sempat kami ke sengigi karena harus makan malam dan besoknya bertolak ke tiga gili sekaligus. Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno tempat kami wisata air serta bermalam. Setelah tur selesai, kami kembali ke Mataram, melanjutkan perjalanan sendiri menuju Lombok Timur menuju Sembalun, tapi kami malah kesasar ke Gili Lampu dan menginap di salah satu kerabat di sana.

Ini Gili Lampu, pantainya memang bukan pasir putih seperti pantai-pantai Lombok yang sering kita lihat di teve.

Entah berapa tulisan yang akan saya buat untuk berbagi kisah menjelajah Lombok ini. Semuanya seperti mozaik di kepala saya, tidak runtut tapi saling berkesinambungan. Ya intinya dari tulisan kali ini: saya harus balik lagi ke Lombok.

Comments

Popular Posts