Sirkus Pohon dari Kacamata Gina

Sejauh ini saya tidak pernah kecewa yang amat sangat dengan karya-karya Andrea Hirata. Sedikit kekecewaan saya (ya, hanya sedikit) kadang latar yang digunakan dalam sejumlah cerita Pak Cik sedikit berulang, dari novel satu ke novel lain. Ingat, hanya sedikit.

sumber: goodreads.com


Sirkus Pohon adalah novel yang terbit pada 2017. Kalau ditanya, lebih suka mana Ayah atau Sirkus Pohon, saya akan menjawab Ayah. Walau, lagi-lagi Pak Cik selalu berhasil, selalu lihat, mengobrak-abrik takdir tokoh-tokoh dalam karyanya.

Bisa dibilang, saya menggaransi diri saya untuk membeli setiap novel yang ditulis Andrea Hirata (Walau sampai sekarang saya belum punya Laskar Pelangi (sudah baca hanya belum punya), Cinta dalam Gelas dan Padang Bulan (belum punya dan belum baca). Saya “cocok” dengan cerita-cerita yang disajikan Andrea Hirata. Novel-novelnya selalu berbau petualangan dan pergulatan hidup. Terutama saat para tokoh dimain-mainkan takdir, walau saya tahu ada beberapa imajinasi yang sangat imajinasi dalam beberapa karya Pak Cik.

Kembali ke Sirkus Pohon, di dalamnya kita akan menemukan sebuah kritik sosial yang hanya dipahami oleh orang-orang yang sadar. Salah satu adegan yang “menyentil” saya adalah saat Hob dipolisikan perkara TOA yang biasa digunakan para pegawai negeri sipil untuk senam kesegaran jasmani tiap pagi. Bagaimana bila para pegawai itu sakit akibat tidak bisa senam karena TOA-nya dicuri? Kinerja mereka dalam melayani masyarakat pasti tidak akan baik. TOA itu dicuri Taripol, kawan baik Hob. Hob dituduh terlibat dalam kelompok mafia Granat. Ia sebenarnya diminta Taripol mengantarkan TOA hasil curian ke salah seorang penadah: Soridin Kebul!

Menggelitiknya nasib masyarakat di negara ini digambarkan Andrea dengan sentilan-sentilan ironi di Sirkus Pohon. Nun di sana, di salah satu pulau terindah di nusantara, masyarakatnya masih hidup dalam lingkar kemiskinan yang amat. Perkara mencuri TOA pun dipenjara satu tahun kurungan. Kejadian ini membuat saya menilik kasus kriminal yang lebih besar. Apalah arti TOA jika dibandingkan penggelapan uang negara.

Andrea Hirata lagi-lagi memanfaatkan kekuatannya sebagai orang Melayu dan Belitung untuk menjual latar dari karya-karyanya. Bagi saya itu tidak masalah. Bahkan perlu dicontoh. Mungkin ada sejumlah putra daerah yang nantinya bisa memanfaatkan momentum sastra, bagaimana menyampaikan nilai-nilai sosial budaya melalui karya sastra.

Mungkin memang sudah banyak, tapi percayalah, membaca karya-karya Andrea Hirata akan membuat diri kita berjanji, bahwa suatu hari kita akan mengunjungi Belitung, atau sekadar hidup lebih lama dari sekedar vakansi untuk mengenal masyarakat Belitung.


Andrea Hirata sampai saat ini tidak pernah mengecewakan saya. Entah kalau Anda. Silakan baca juga, lalu kita diskusi dan berbagi cerita. Buku ini ramah dan sangat cocok untuk menjadi teman memperbaiki mood. Pak Cik selalu bisa membawa kegetiran nasib menjadi humor.

Comments

Popular Posts