Keliling Mataram Lombok pakai Ojek Online: Rumah Singgah Lombok dan Islamic Centre

Kami turun gunung dan memutuskan bermalam di Mataram, sehari sebelum kepulangan.
Sebelum kembali ke Jakarta kami belanja di pasar Cakranegara. Bisa dibilang, pasar Cakra mirip-mirip Malioboro-nya Jogja. Mirip apanya ya... harga dan variasi barang yang dijajakan sih lebih tepatnya. Dan maaf.. kayaknya saya lupa memfoto pasar Cakra deh. Jadi enggak punya dokumentasinya, googling yak.

Salah satu keuntungan kita yang baru mengunjungi Lombok sekarang ini adalah... transportasinya lebih mudah. Kami  berlima menumpang taksi online dari penginapan di Jalan Arjuna menuju pasar Cakra. Lebih efektif dan lebih terjangkau. Setelah dirasa cukup beli buah tangan di pasar Cakra, teman-teman berinisiatif ke Lombok Epicentrum Mall. Saya pun sempat ikut. Sampai di Lombok Epicentrum Mall kami berpencar, mencari barang yang dibuthkan-kalau ada. Saya sendiri hanya menumpang ibadah, keliling sebentar, lalu memtuskan keluar mall. Saya punya sejumlah tempat yang rasanya ingin dikunjugi di Mataram.

Pertama, saya ingat saran Mas Jangka, kawan saya di jurusan yang sudah sampai Lombok duluan dengan cara backpackeran (bisa baca cerita ranselnya Mas Jangka dan Ilham di sini). "Sempetin mampir Rumah Singgah Lombok". Sempat kepikiran sih, emang apaan tuh isinya di rumah singgah. Akhirnya, saya pesan ojek online dari LEM, dan mas-masnya ternyata lagi nongkrong di Starbucks tapi kocaknya masnya nungguin saya di sebrang jalan. Padahal saya lihat dia telepon saya dari Starbuck dan saya di belakangnya. Males teriak-teriak yaudah lah ya.

Sesuai tujuan, saya minta diantar ke Rumah Singgah. Letaknya agak masuk-masuk "komplek" kalau mau dibilang. Di sana saya bertemu dengan Pak Ihsan dan Mamak. Udah berasa mengunjungi keluarga seenaknya. Mampir-mampir aja. Mamak dan Bapak sempat bingung sih, saya ke Rumah SInggah ngapain, enggak mau nginep padahal. Tapi mereka ramah sekali kok. Saya diceritain panjang lebar. Saya masuk liat kamar dan liat ratusan foto yang dipajang di ruang tamu. Wow. 
Mamak dan Bapak sekeluarga ini hobi melakukan perjalanan. "Kalau kita mau naik gunung sekeluarga ya kita tutup," gitu cerita mamak.

Salah satu sudut ruangan di Rumah Singgah (dok. Pribadi)


Jadi, Rumah Singgah Lombok dibuka mamak dan bapak untuk para "pengelana" yang mengunjungi Lombok. Lokasinya di Jalan Bangil, Kota Mataram. Di sana para traveler itu diperkenankan menginap tanpa dipungut biaya. Sistemnya adalah sharing room, perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki (Yaiyalah). Atau kalau lagi penuh, yang perempuan di kamar laki-laki di ruang tamu. Setiap tamu wajib menjaga kebersihan. Di Rumah Singgah juga mamak dan bapak menjual sejumlah buah tangan, ada tas serut yang waktu saya beli harganya Rp 35ribu. Ada juga makanan ringan, kaos dan kain tenun. Setelah dirasa cukup tahu soal rumah singgah, saya bergegas kembali ke penginapan. Ya, diburu waktu. Kami harus ke bandara pukul dua siang.

Foto di rumah singgah banyak, Ada foto keluarga, ada juga foto dari tamu-tamu yang berkunjung (dok. pribadi)


Sebenarnya, mas-mas ojek saya nungguin saya. Beliau bahkan ikut ngobrol sama mamak dan bapak, biar tahu rumah singgah juga katanya. Dan saya order lagi dengan driver yang sama menuju penginapan. Teman-teman saya sudah menuju penginapan dari mall. Nah sebelumnya, saya sempatkan mampir sebentar ke Mataram Islamic Centre. Bingung sih mau ngapain, karena waktu ibadah sudah lewat dan sudah dilakukan di mall. Ini nih baru kepikiran pas mau pulang. Malah masnya yang masuk, dan mungkin salat di dalam. Saya sampai ditelepon teman-teman karena sudah ditunggu. Terus di luar saya hanya foto-foto. Sendirian. Eh taunya, ada pasangan dari Solo yang juga sedang mengunjungi Lombok. Mereka minta tolong untuk difoto berlatar belakang masjid Islamic centre.

Salah satu menara masjid (dok. pribadi)
dok. pribadi

"Bagus mbak, boleh minta tolong fotoin lagi?"
"boleh"
"Sini mbak, saya gantian fotoin," kata mbaknya

Jepret

Saya punya foto berlatar masjid Islamic Centre di Mataram. Berhubung saya ke masjid pakai kaos dan celana jeans, jadi saya agak gemana gitu sendiri sama foto itu wkwk. Enggak kepikiran bakal mampir situ sih sebenarnya.

Sebelum pulang ternyata saya melewati toko buku di Mataram, penasaran sih. Tapi yakali, jauh-jauh ke Lombok ke toko buku yang di kota saya juga ada. Mungkin lain kali. Oia, ngomong-ngomong soal buku, ada satu tempat yang juga belum saya kunjungi: Rumah Baca Sembalun, Lombok Love Library.

Jadi intinya, enggak usah takut soal transportasi di Mataram, kalau punya waktu luang, kita bisa kok naik kendaraan umum (tapi jarang banget). Kalau eggak kita bisa naik tranportasi yang dipesan online. Salam jalan-jalan! hehe

Comments

Popular Posts