Masuk Puskesmas Sembalun Bumbung

Hujan deras turun mengguyur Sembalun, mengantarkan pilu seorang kawan yang tiba-tiba tak sadarkan diri
"Bawa puskesmas!"
Jantung saya berdebar cepat sekali, semuanya panik.


Foto sambil neduh abis dari puskesmas. Tadi-tadi enggak sempet foto



Sembalun memang cita-cita kami.
Setelah malam hari terdampar sampai Gili Lampu.



Setelah menikmati paket wisata yang bergelimang fasilitas, kami bertekad untuk menjelajahi Lombok dengan a la backpacker. Sebenarnya saya sih, yang lebih cenderung ke backpacker. Setelah kemarin puas laut-lautan, kami mencoba menyapa Rinjani di Timur Lombok sana. Sembalun, tujuan kami.

Kerabat yang kami tumpangi rumahnya mengantarkan kami dari Gili Lampu sampai di sebuah daerah dekat Wanasaba, Lombok Timur. Parahnya, saya lupa mencatat pertigaan tempat bertemunya Sembalun dan Wanasaba.

Di Sembalun kami lagi-lagi menumpang, ada salah satu kerabat kami yang memang orang setempat. Ia dulu menempuh pendidikan di salah satu pendidikan tinggi Jogja.

Setelah diantar "om", kerabat kami di Gili Lampu, Kami menumpang mobil bak menuju Sembalun Bumbung. Udara teduh kala itu, suhu mulai terasa dingin, padahal waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Kami melewati hutan dengan kearifan lokal: banyak monyet liar. Sepanjang jalan kita akan diliputi syukur karena melihat elok Sembalun yang tiada tara. Saya menumpang di punggung mobil bak, terasa sekali udara dingin menampar-nampar tubuh.

Setengah jam kemudian kami tiba di atas. Ada beberapa perbaikan yang sedang dilakukan di dekat Pucuk Sembalun. Oia, Pucuk Sembalun adalah salah satu tempat yang rencananya kami kunjungi.

Salah satu hal yang kami syukuri adalah, kami tidak sekadar wisata ke Lombok. Kami punya keluarga baru. Keluarga Om dan mbak Ika di Gili Lampu, keluarga Bapak dan Ina di Sembalun, serta mas-mas mahasiswa Jogja. Mereka semua memang bukan kerabat saya langsung, mereka adalah kerabat dari teman-teman saya, tapi sikap mereka baik sekali. Sangat baik kepada kami semua. Oia, kami waktu itu berlima dari Semarang, tiga perempuan (termasuk saya) dan dua teman laki-laki kami

Kami menerima suguhan kopi dan buncis. Iya buncis katanya, isinya buncis sepertinya yang digoreng kering. Setelah itu rencananya kami akan mengunjungi sawah sebentar. Sebelum itu semua terlaksana, tak ada aba-aba sebelumnya, salah seorang teman perempuan kami pingsan. Hp di tangannya jatuh, dan bibirnya membentur tikar.

Kami kaget. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena melihat darah mengalir, kerabat kami berinisiatif langsung membopongnya menuju puskesmas. ya, puskesmas tidak jauh dari tempat tinggal kami. Dengan gerakan sigap dan bantuan teman laki-laki lain, teman kami dibawa ke puskesmas dengan menggunakan motor.

Hujan seketika turun tanpa gerimis.
Langsung deras.

Dada saya sesak, kepala saya sudah penuh dengan pikiran-pikiran negatif. Sempat kami mengira, bahwa rekan kami ketempelan.

Bersyukurnya, sesampai di puskesmas ia sadarkan diri. Kelegaan yang luar biasa. Kelegaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. apa yang harus kami katakan kepada orang tuanya jika hal buruk benar-benar terjadi?


Pemandangan di belakang puskesmas


Oia, hujan tidak juga reda. Saya dan dua orang teman lain ikut menyusul ke puskesmas, bermodal lari digeruduk hujan. Kami sempat meneduh, dan saya meminjam payung ke warga di pinggir jalan. Saya bicara bahasa Indonesia dengan logat yang tidak ada "sasak-sasak-nya".



Kami cukup menikmati sembalun dengan mi kuah dari dalam rumah. Tapi hal itu tidak berlaku bagi rekan saya yang baru saja sadarkan diri. Dia sudah kembali sehat, hanya ada bekas luka kecil di atas bibirnya.

Tak ada foto di Sembalun, bahkan tidak sempat berfoto dengan Ina dan bapak. Tuan rumah kami yang sangat baik hati. Setelah itu, kami memutuskan untuk kembali ke kota sore harinya. Kami lebih baik kembali ke Mataram karena akses kesehatan lebih memadai kalau nanti-nanti ada kejadian yang tidak diharapkan lagi.

Pukul lima sore kami menumpang mobil bak lagi menuju Anjani. Rumah kerabat kami itu. Kami disuguhkan kue bantal dan saya sangat sukaaa, mau makan kue bantal lagi. Kue bantal mirip nagasari kalau di Jawa, tapi dibungkus daun bambu menyerupai ketupat. Isinya pun beras ketan yang dalamnya pisang.

Ini namanya kue bantal. Saat itu hujan deras dan keadaan gelap, maaf adanya foto begini

Tak lapa setelah minum teh dan makan kue bantal kami benar-benar embali ke Mataram.
Perjumpaan singkat dengan Sembalun Bumbung, bahkan niat saya dan teman yang sempat tak sadarkan diri itu adalah sampai ke bukit pergasingan.

Tak apa, kami memang harus balik lagi ke Sembalun

Comments

Popular Posts