Predator itu Bernama Waktu

Ia berlari sangat cepat.
Dan mulutnya mampu melahap apapun tanpa meninggalkan sisa. Sama sekali.

Ia menyerang orang-orang yang lengah, ya hanya orang-orang yang lengah.





Dan saya mungkin korban berikutnya, yang akan mati



***
dokumen pribadi

Tidak ada cara untuk benar-benar selamat. Saya tahu itu. Memang masih ada harapan, tapi harapan itu hanya menyisahkan sedikit kesempatan: selamat dengan cacat. Atau paling mujur, selamat dengan bekas luka.

Predator itu bernama waktu. Jika dianalogikan, mungkin dia  gladiator terkuat yang bertarung di koloseum. Waktu tidak seperti pemain pedang pada umumnya, tetapi ialah pedang itu-yang kedua sisinya tajam, melibas setiap yang tidak siap.
Perih.

Entah bisa kita sebut apa dia. Makhluk? Benda mati? Binatang? Hewan? Zat? Entahlah.

Waktu semakin lama semakin kuat. Atau saya yang semakin melemah? Ia menghancurkan semua angan-angan indah yang saya susun. Angan-angan yang tak pernah saya beri ruh. Angan-angan yang akhirnya mati, bahkan sebelum dia hidup.

Sebenarnya, waktu telah memberi saya kesempatan untuk menjadi seorang ksatria. Sayang, tidak saya pergunakan dengan baik. Akhirnya, saya keluar sebagai si lemah yang harus mengakui kekalahan.

Waktu menggebuk dada saya dengan sebuah kenyataan. Bahwa hidup tidak bisa indah tanpa tantangan.

Penerimaan menjadi si lemah adalah sebuah hal hina. Tapi lebih hina jika pasrah dengan keadaan itu.
Percuma menilik ke belakang untuk merenungi penyesalan. Bukan, bukan berarti kita tidak belajar dari kesalahan. Tapi bentuk syukur dan memperbaiki itu semua adalah dengan membuat sebuah perubahan baik di masa depan.

Napas saya terasa sesak. Waktu terus menekan paru-paru, bahkan isi kepala dan batin saya. Kalau memang saya sudah cukup kalah kemarin, satu cita-cita saya yang mungkin bisa menjadi sebuah kemenangan hakiki "saya tidak boleh berakhir dengan sia-sia".

Saya tahu, saya masih diberikan kesempatan untuk berubah. Selamat dengan bekas luka. Dan berusaha untuk menyembuhkan.

Predator itu adalah waktu.
Dia musuh terberat, sekaligus guru terbijak. Kalah dari waktu sakitnya teramat sangat. Tapi dia juga obat paling mujarab.

Predator itu bernama waktu.

Comments

Popular Posts