Tentang Kucing Kopi dan Laporan Penggunaan Biaya Pengobatan

Sekitar pertengahan bulan puasa tahun 2017, kawan saya Friska mengatakan kalau ia melihat kucing yang tubuhnya sobek cukup besar. Kucing itu berkeliaran di sekitaran kos tempat saya saat itu tinggal. Tepatnya di dekat kedai-kedai penjual makanan: penyet, pecel, dan warteg.

Friska mengajak saya menangkap kucing itu untuk diobati, kalau bisa juga membawanya ke dokter. Saat itu saya tidak percaya kalau ada kucing "bolong", apalagi, kata Friska warnanya hitam. Dia pun melihatnya saat malam hari, sekitar pukul 11, sepulang rapat (atau keperluan apa ya, maaf saya lupa) saat semua warung juga sudah tutup.

"Kucing apaan tuh," elak saya

Hari itu, sebelum magrib benar-benar datang, saya dan Friska akhirnya coba berkeliling dengan membawa makanan kucing yang sudah diwadahi botol bekas air mineral. Sayangnya, kami tidak menemukan apa-apa, yang ada kedai-kedai penjual makanan itu semakin ramai pembeli.

Kami tidak menemukan kucing yang Friska maksud. Saya masih tidak percaya. Saya yang tinggal di sekitaran situ tidak pernah lihat kucing semacam itu juga,


***

Ini pertama kali ketemu Kopi

Berbulan kemudian, sekitar bulan September 2017, suatu hari saya makan siang di warung pecel di deretan kedai penjual makanan tersebut, dan saat itu saya lihat kucing yang mungkin sama seperti yang dimaksud Friska, warna tubuhnya hitam, ada bagian berwarna putih di perutnya. Usianya mungkin tergolong kucing remaja. Ada luka menganga sekitar 10cm dan kotor di tubuh kirinya. agak masuk ke dalam, saya seperti bisa melihat serat-serat daging dan bentukan tulang di lukanya. Mungkin karena dia kurus. Saya yang makan pecel kala itu langsung tak enak perasaan melihat kucing tersebut.

"Ssst, pusssss," saya iseng catcalling
iya menoleh
"Mau makan?"
Dia menatap saya agak lama, saya sempatkan untuk ambil fotonya.
"Eh tapi ga ada deng," ujar saya, (karena pecel pesanan saya belum datang dan kucing enggak doyan sayur deh kayaknya)
Melihat saya tidak melakukan apapun, hanya menatap dia,  segera berlalu, dia main dan duduk-duduk di sekitar tempat makan itu.

Mungkin, sejumlah orang yang makan di situ juga tidak nyaman.

"Mbak itu kucingnya kenapa deh?" tanya saya kepada penjual pecel
Mereka awalnya ragu-ragu menjelaskan, takut disalahpahami. Tapi setelah saya dengar ceritanya, saya mengerti. Di lingkungan penjual makanan itu memang banyak sekali kucing.

Suatu hari kucing itu berantem dan tidak sengaja menyenggol dan menginjak (kalau bahasa Jawa-nya mancali) wajan ibu pecel. Wajan alias penggorengan itu berisi minyak panasn. Wajan itu memang masih ada di atas kompor lantai yang digunakan untuk memasak dagangan, alhasil tubuh kucing itu tersiram minyak.

"Untung ibuk juga engga kesiram mbak," jelas anak ibu penjual pecel
"Oh, iya. Terus itu sempet diobati (kucingnya) mbak?"
"Iya, diobati sama bapak, dikandangin, tapi ya gitu. Lukanya pernah kecil kok mbak, engga tau itu besar lagi (lukanya)," jelas mbak pencual pecel

Saya pun menghubungi Friska dan memberikan foto kucing tersebut via WA

Tuhkan bener, gue enggak bohong
Friska membalasi chat saya

Saya pun percaya dan setelah melihatnya jadi berinisiatif  membawa kucing itu ke dokter
Pemikiran saya untuk bawa kucing itu ke dokter dilatarbelakangi pengalaman saya punya kucing di rumah, badannya pernah bolong kecil karena berantem, tapi ibu saya telaten mengobati kucing di rumah dengan obat merah dan semacam salep gitu. Dia cepat sembuh.
Kedua, ini di tempat makan, kalau tidak ada yang peduli lukanya bisa semakin parah dihinggapi larva karena kotor dan mungkin bisa terbang ke makanan?

Saya minta tolong Friska untuk bantu menangkap kucing yang belum kami namai itu. Akhirnya saya bilang ke mbak pecel,

"mbak, kalo kucing itu saya obati gemana? Tapi saya engga bisa nangkepnya,"
"nanti dibantu mbak, tak kandangi (dibantu menangkap kucing taruh dikandang)."

Beberapa hari saya bolak-balik ke warung pecel untuk memeriksa keadaan, apakah kucing bolong itu sudah tertangkap. Susah memang menangkap kucing itu, mungkin dia trauma, jadi lihat orang pun dia kabur. Bahkan saya sudah dibantu dengan mas-mas salah seorang saudara penjual pecel yang tinggal di situ. Hampir semua orang takut menangkap kucing itu karena badannya yang terluka lebar, orang-orang takut terinfeksi lukanya dan juga takut semakin melukai kucing itu dengan tidak sengaja menyenggolnya.
Ah iya, pernah suatu sore kami bahkan sempat dibantu juru parkir yang ada di sana untuk menangkap kucing tersebut.

Suatu hari sebelum azan magrib saya mendapat kabar kalau kucing bolong berhasil ditangkap, saya segera ke rumah mbak pecel tak lupa sempatkan beli sarung tangan di apotek dan bawa keranjang hasil pinjaman Friska dari temannya.

Kucing itu hanya terjebak di keranjang baju, PRnya adalah bagaimana memindahkan dia ke keranjang, dia juga masih galak dan suka gigit. Belum lagi, saya punya pikiran buruk tentang kucing liar yang bisa jadi menyimpan sejumlah bibit penyakit.

Malam itu, dengan bantuan mas-mas kerabat mbak pecel, kucing bolong bisa dimasukkan ke keranjang. Saat itu Friska masih ada urusan kerja, belum pulang, saya bingung bagaimana membawa kucing itu ke klinik, apalagi saya belum pengalaman bawa kucing pakai motor sendirian.

Dengan terpaksa dan tidak tahu malu, saya menghubungi sejumlah teman angakatan di kuliah.
Dan kala itu, ada teman yang merespons baik. Irman, salah seorang penyuka kucing yang berkenan membantu kami sampai saat ini.

***

Sebelum kucing "bolong" ini tertangkap, saya coba menghubungi salah satu dokter hewan yang berpraktik di sekitar daerah Ungaran. Sayangnya kami belum jodoh, saat kucing tertangkap dokter ada keperluan dan tidak ada di tempat.

Saat itu, saya pun bingung mau diapakan kucing ini. Kalau keranjang dibuka, pasti kucing ini akan lepas dan lari. Kalau tidak dibuka, bisa-bisa dia mati karena stress. Friska untung saja segera pulang. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Kami langsung googling mencari klinik hewan terdekat. Padahal taksi online sudah kami pesan ke Ungaran. Mau tidak mau, kami akhirnya harus memutar arah ke klinik hewan yang berada di daerah Sampangan.

Sampai di klinik, ternyata ada sejumlah pasien yang sedang ditangani. Di sana kami juga bertemu dengan penyelamat kucing "legend" di Semarang, tante Shandy. Tante Shandy menolong kami dengan "meminjamkan nama" untuk merawat kucing tersebut di klinik. Kami segera mengisi identitas dan langsung saja memberi nama Kopi karena warnanya yang hitam (belakangan baru terpikir nama Zathura atau Black Hole).

Saat itu kami membuka donasi untuk perawatan Kopi. Karena kami berpikir saat itu, kucing ini akan lama penyembuhannya, atau mungkin akan ditindak. Saya dan Friska sama-sama memeriksa rekening, dan sepertinya uang kami tidak akan cukup. Saya pun engga tahu dulu bayar klinik dengan vcara apa. Maka dari itu, kami coba untuk buka donasi dan buka adopsi.

Sejak pertama kali ditangani dokter, kami menginapkan Kopi beberapa hari di klinik karena kos kami bertiga tidak memadai,

Singkat cerita, kami berhasil mengumpulkan donasi untuk Kopi hingga 2 juta rupiah. Uang itu hasil penjumlahan sumbangan teman-teman, saya, dan Friska. Bahkan, orang yang kami duga Om Broto Happy pun turut menyumbang (waktu itu Friska dapat pesan dari seorang ayah yang mengaku punya putri penyayang kucing juga, beliau ternyata bantu donasi ke rekening Friska, kami coba simpan nomor tersebut dan setelah itu kami buka aplikasi WA, ternyata foto profil dermawan tersebut mirip om Broto Happy)

Bahkan, salah seorang rekan mahasiswa lain turut membantu biaya rawat inap Kopi dua minggu itu. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Fauzan, enggak disangka ternyata mahasiswa teknik bisa jadi penyayang kucing juga.

Singkat cerita lagi, uang tersebut kami gunakan sepenuhnya untuk pengobatan Kopi. Berikut rincian penggunaannya:





Selanjutnya, Kopi kami bawa pulang dan kami kandangkan di kontrakan anak angkatan (serius, terima kasih banyak teman-teman Mansion V yang sangat baiiiiiiiiik hati). Kopi sempat kami kurung berbulan-bulan, kandnagnya kami minta dari mbak-mbak penjual pecel, setiap pagi dan sore Irman, Friska, Gita, dan saya membersihkan luka juga kotoran Kopi.

Namun, saat ini Kopi mulai kabur-kaburan, yang pertama kami menduga dia sudah masuk waktunya kawin, tapi makin lama Kopi makin sering main dan pulang kalau malam hari serta makan, lukanya belum juga menutup, tapi setiap hari Irman dan teman-teman Mansion V berusaha membersihkan dan mengobati luka Kopi. Badan Kopi juga semakin gemuk, kami pernah suatu kali ditegur dokter supaya jangan terlalu memberinya makan banyak agar penyembuhan lukanya cepat.

Saya tidak bisa membalas semua kebaikan orang-orang yang membantu. Saat ini saya hanya bisa berdoa, saya yakin Allah swt. akan memberikan  berkah yang jauh lebih banyak kepada teman-teman, ibu, dan bapak donatur yang telah membantu Kopi selama ini.

Salam

Comments

Popular Posts