Kita Masih Tetap Sama

"Kok engga ada yang berubah ya? Masih sama aja..."
Sumber gambar: Edit di Canva

 

Kemarin lusa kami memenuhi undangan teman SMA yang menggelar pesta pernikahan, Serius, aji mumpung banget karena diselenggarakan pascalebaran Idul fitri. Bisa sekalian halal bi halal dan reunian. Iya reunian, udah 4 tahuan kami enggak pernah ketemu lagi setelah mulai kuliah.

Eh kami di sini maksudnya person to community. (Eh gua nulis apa sih?) Maksudnya-lagi, kami adalah si individu ke komunitas besar. Misal, saya ke teman SMA seangkatan.

Ya seperti biasa, semua berjalan layaknya orang kondangan: datang, isi buku tamu, dikasih souvenir, makan, ngobrol, salaman ke pengantin dan keluarga, foto-foto, balik. Pas ngobrolnya aja mungkin yang agak beda. Mulai pada julid. Ngomongin siapa aja yang pas SMA pacaran-masih apa engga-sampai bahas siapa yang bakal ngundang habis kondangan ini. Atau ya bahas siapa-udah kerja di mana-sebagai apa.

Saat kemarin kemarin ketemu sih, saya cuma puya sedikit penasaran, "teman-teman gua udah pada jadi apa ya? Gemana ya kehidupan mereka sekarang? Aduh, mana gua baru banget lulus, kerjaan juga belom ada, belom ada yang bisa dibanggain". Ya gitu deh.

Realitanya... pas sampe sana... mereka adalah orang-orang sama-orang yang saya kenal lima tahun lalu. Orang-orang yang tiga tahun sekelas enggak ga ganti-ganti (ini sih kayaknya, alasan kita bisa kenal deket sama temen-temen sekolah, orang dari masuk sekolah sampe lulus temennya dia lagi-dia lagi).

SAMA AJA

Menurut saya.

Saya masih melihat teman-teman yang sama, seperti teman-teman saya di sekolah dulu. Karakternya... yang cowok-cowok julid di kursi belakang, bercanda kocak, masih sama aja kalo ngecakin orang. Yang cewek-cewek juga julid. Mungkin perbedaan yang kentara-itu pun dikit-dari segi fisik. Mereka ada yang tambah tinggi, tambah gendut (atau mulai buncit) dikit, jenggotan dikit, langsingan dikit, ya sebatas fisik itu aja.

Pada suatu obrolan di perjalanan pulang, teman saya ada yang nyeletuk, "Kok rasanya pada masih sama aja sih? engga berubah?". Berebutlah kita nimpalin.

"Iya ya, kok bisa.."

Engga tahu, saat itu pun saya langsung kepikiran jawaban: "karena kita nyeseuain diri gak sih? Kita main sama temen-temen SMA, ya karakter gua reflek sebagaimana dulu gua biasa main sama kalian"

"Ah iya bener juga tuh, jadi kita juga kembali ke karakter yang dulu. tergantung temennya,"

"Jadi, coba deh kita main bareng, tapi ajak orang lain yang enggak di lingkaran kita, bakal ketauan deh karakter kita berubahnya di mana?"

Kalau dipikir-pikir bisa jadi diskusi di dalam taksi online itu ada benarnya.

Kita akan tetap menjadi karakter yang sama ketika bertemu dengan orang yang sama dalam hidup kita.

Mungkin gitu tabiat manusia, akan tetap menjadi orang yang tetap sama di lingkungan yang sama.

Tentunya pemikiran ini masih perlu diragukan,
Entah dari intensitas lama ketemu
Entah ternyata di hidup masing-masing kami belum banyak yang bisa membuat kami berubah drastis

Nah bisa jadi nih buat pertimbangan, kalau tiba-tiba ada orang dari masa lalu (bilang aje mantan) datang di masa sekarang dengan menjanjikan perubahan atas kesalahannya: perlu dipertanyakan. Sepertinya manusia akan tetap bertabiat sama dengan lingkungan yang sama. Mending enggak usah, hehe.

Comments

Popular Posts