Saya Mati Tanpa Harapan, Dan Satu-Satunya Harapan Saya Adalah Usaha
Judulnya panjang banget ya
He-he, habis itu sih yang pertama kali kepikiran
Jadi gini, sekian lama saya meragukan kekuatan doa, iya doa. Doa yang dielu-elukan. Hingga sampai saat itu, saya tidak pernah benar-benar meminta, di kepala saya hanyalah berusaha semaksimal mungkin, tak pernah lupa untuk menyebut nama Tuhan atas segala hal yang akan saya lakukan, berusaha, berusaha lagi, dan lagi, hingga hasil yang akan menunjukkan dirinya, jika memang hasil itu tidak sesuai dengan keinginan saya, maka saya pasrahkan dan kembalikan lagi saja ke Tuhan.
Kala itu, di kepala saya, yang terpenting adalah usaha, usaha adalah bentuk meminta kepada Yang Maha Berkehendak sebagai sebuah cara yang paling nyata. Oh ya, tentu saja setiap sehabis salat saya selipkan sesekali permohonan atas usaha yang sedang saya lakukan, saya tidak pernah menyebutnya secara khusus.
Entah mengapa saya berpikir seperti itu.
Mungkin karena sejumlah pengalaman,
Pengalaman yang membuat saya berpikir, apapun yang saya lakukan jika memang bukan rejeki saya maka tidak akan menjadi milik saya, dan apa yang menurut saya baik belum tentu benar-benar baik.
Saat dulu saya meminta untuk diterima menjadi mahasiswa di sebuah institut di Jawa Barat, doa setiap malam, bahkan salat hajat, dan mendadak menjadi dermawan dengan ikut kegiatan sosial yang berhubungan dengan anak yatim.
Hal tersebut akhirnya saya renungi jauh hari ketika saya sudah menjadi mahasiswa di universitas yang tidak pernah saya doakan.
Saat itu saya berada pada titik syukur tiada tara karena sangat menikmati kehidupan saya sebagai mahasiswa.
Hal itulah yang membuat saya berpikir, jangan-jangan selama ini doa saya egois, doa saya tidak ikhlas. Dan sejak saat itu saya berpikir untuk memasrahkan segala sesuatu yang saya usahakan kepada Tuhan. Saya tidak ingin menaruh harapan apapun pada usaha-usaha saya, yang ingin saya lakukan hanyalah usaha-usaha-dan usaha. Berdoa sejatinya menguatkan hati, tapi berdoa sebenarnya adalah usaha saya.
Saya sangat percaya Tuhan akan mengubah nasib suatu kaum kalau diri kaum itu menginginkan perubahan nasibnya. Menginginkan dalam arti mengusahakan, menuju apa yang diharapkan. Dan harapanlah satu-satunya yang membuat saya semangat bertahan hidup sampai saat ini.
"Bertahan hidup" kedengarannya dramatis ya.
Tapi beneran deh, saya punya harapan untuk mewujudkan secuil kebahagiaan duniawi untuk orang tua saya, saya punya harapan untuk sekedar melanjutkan pendidikan atau keliling eropa dengan campervan, ya harapan-harapan itu adalah pritilan nyawa saya sendiri.
Dan harapan itu akan terus hidup jika disusupi ruh usaha. Maka, saya mungkin mati tanpa harapan, dan saya harus tetap hidup dengan membangun: harapan. Harapan yang membuat orang sakit kritis berpikir untuk bisa pulih kembali, pun harapan yang mebuat perut orang-orang miskin masih sanggup bekeja. Harapan adalah nyawa.

Comments
Post a Comment