9 Agustus 2018
Ada dua kejadian yang tidak mungkin saya lupakan─sepanjang saya tidak hilang ingatan─pada hari ini.
(Mungkin tulisan ini akan mengalami revisi kalau mood menulis sudah lebih baik)
Hari yang bersejarah dalam hidup. Sebab pada hari ini, saya mendapat kabar baik dan buruk sekaligus.
Sebenarnya, bukan suasana melankolis yang ingin saya kenang pada tulisan ini. Hanya sekadar kenangan yang ditulis untuk tidak dilupakan.
Pada 9 Agustus ini, tunai sudah cita-cita orang tua saya mewisuda anak pertamanya. Anggota pertama keluarga dalam keluarga inti yang berhasil mencapai tittle sarjana. Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan membahagiakan ini kepada orang tua saya, mungkin hari itu adalah salah satu hari yang membahagiakan bagi mereka.
Kebahagiaan terletak bukan pada tantangan yang bisa saya lalui, namun lebih kepada rasa syukur karena sudah bisa membuat orang yang paling berjasa (banyak berperan dalam hidup saya) bangga.
Kedua,
Ada hal yang tidak bisa saya lupakan. Perasaan yang mengganjal itu saya kira hanyalah sebuah rasa nervous yang kira-kira muncul karena kegugupan "untuk bertemu rektor" saat penyerahan ijazah di depan orang banyak itu. Entahlah, perasaan apa itu.
Sampai seusai seremoni, di luar gedung, tiba kabar kepergian seorang sahabat di telinga saya. Sahabat yang beberapa waktu sebelumnya berniat untuk bertemu di suatu kota. Salah satu sahabat terbaik yang akan mengkritik saya terkait cara pandang saya terhadap agama. Salah seorang sahabat yang sangat ingin ke Lombok. Salah seorang sahabat yang punya cita-cita besar dan semangat muda yang menular.
Rasanya, ingin saya tulis kebaikan-kebaikannya di sini.
Hingga keesokan hari, air mata saya masih tidak bisa terbendung. Saya masih hampir tak percaya akan kabar kepergiannya. Hingga sampai pada suatu titik yang membuat saya lebih ikhlas, bahwa "yang minta dia kembali adalah Allah. Zat yang pemilik segala, Zat yang Maha Pengasih, Zat yang tiada duanya pemilik semesta. Ia sudah bersama yang Terbaik, lantas untuk apa saya menangisi,"
Sekejap saya merasa lega. Saya yakin dia sudah di tempat yang terbaik
Padahal siapa saya yang berhak menangisi dia?
![]() |
| Berfoto dengan Putu dan Friska. Salah satu momen 9 Agustus 2018 |
(Mungkin tulisan ini akan mengalami revisi kalau mood menulis sudah lebih baik)
Hari yang bersejarah dalam hidup. Sebab pada hari ini, saya mendapat kabar baik dan buruk sekaligus.
Sebenarnya, bukan suasana melankolis yang ingin saya kenang pada tulisan ini. Hanya sekadar kenangan yang ditulis untuk tidak dilupakan.
Pada 9 Agustus ini, tunai sudah cita-cita orang tua saya mewisuda anak pertamanya. Anggota pertama keluarga dalam keluarga inti yang berhasil mencapai tittle sarjana. Saya sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan membahagiakan ini kepada orang tua saya, mungkin hari itu adalah salah satu hari yang membahagiakan bagi mereka.
Kebahagiaan terletak bukan pada tantangan yang bisa saya lalui, namun lebih kepada rasa syukur karena sudah bisa membuat orang yang paling berjasa (banyak berperan dalam hidup saya) bangga.
Kedua,
Ada hal yang tidak bisa saya lupakan. Perasaan yang mengganjal itu saya kira hanyalah sebuah rasa nervous yang kira-kira muncul karena kegugupan "untuk bertemu rektor" saat penyerahan ijazah di depan orang banyak itu. Entahlah, perasaan apa itu.
Sampai seusai seremoni, di luar gedung, tiba kabar kepergian seorang sahabat di telinga saya. Sahabat yang beberapa waktu sebelumnya berniat untuk bertemu di suatu kota. Salah satu sahabat terbaik yang akan mengkritik saya terkait cara pandang saya terhadap agama. Salah seorang sahabat yang sangat ingin ke Lombok. Salah seorang sahabat yang punya cita-cita besar dan semangat muda yang menular.
Rasanya, ingin saya tulis kebaikan-kebaikannya di sini.
Hingga keesokan hari, air mata saya masih tidak bisa terbendung. Saya masih hampir tak percaya akan kabar kepergiannya. Hingga sampai pada suatu titik yang membuat saya lebih ikhlas, bahwa "yang minta dia kembali adalah Allah. Zat yang pemilik segala, Zat yang Maha Pengasih, Zat yang tiada duanya pemilik semesta. Ia sudah bersama yang Terbaik, lantas untuk apa saya menangisi,"
Sekejap saya merasa lega. Saya yakin dia sudah di tempat yang terbaik
Padahal siapa saya yang berhak menangisi dia?
![]() |
| Ya, semoga suatu hari bisa kesampaian ke Air Terjun Sipiso Piso |



Comments
Post a Comment