Refleksi 23 tahun


Terharu. Lebih dominan perasaan terharu menyadari kesempatan hidup yang Tuhan kasih sepanjang ini.

Dua hari sebelum peringatan hari kelahiran saya, ibu sempat mengucapkan selamat bahwa "sebentar lagi akan ulang tahun," katanya. Saya pun membalas ucapan itu dengan unek-unek yang sebenarnya sudah tertanam lama. "Ibu dong yang selamat, sudah 23 tahun berhasil mendidik", ya begitulah kira-kira.

Saya enggak paham, harus beraksi seperti apa setiap ulang tahun. Entah karena terlahir sebagai "Pisces" dan bergolongan darah A atau bagaimana, rasanya saya memang sensitif. Saya cuma mau bersyukur dan bersyukur atas kesempatan hidup ini. (Baca: menangis dan menangis-karena dikasih kesempatan hidup sepanjang ini).

Di peringatan ulang tahun kemarin, saya lebih sadar bahwa saya tidak banyak belajar apa-apa selama ini. Hidup dalam kewajaran dan ketakutan-ketakutan. Terlalu memaknai hidup hanya sekadar merasakan perjuangan sampai waktunya selesai. Terlalu naif hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat.

Di usia yang sekarang, saya mulai dibenturkan pada kenyataan lagi, mencoba mendekati jalur hidup ilahiah atau kebijaksanaan semesta: bahwa manusia adalah manusia, terlepas dari nilai-nilai yang dicekoki kepada dirinya.

23 tahun, entah akan saya buat apa. Apakah tetap fana sebagai mana angka-angka sebelumnya. Atau ternyata memberikan kejutan.

Sembah sujud saya pada Sang Pemilik Semesta.

Comments

Popular Posts