Pada Suatu Fase
![]() |
| Sumber gambar:Pixabay |
Masih ingat, ketika mata saya memandangi langit-langit kosan malam itu. Sembari berbaring di kasur seukuran 200 x 160 senti, saya bertanya-tanya pada diri sendiri, "mau dilanjut ke mana perjalanan setelah lulus nanti?". Kalau dipikir-pikir, sepertinya lulus kuliah itu tidak enak. Akan banyak sesuatu yang tidak pasti. Kesempatan belajar pun semakin sedikit, pikir saya waktu itu.
Dan itu benar-menurut saya sampai detik ini.
Beberapa hari kemudian, saat memandangi naskah skripsi di layar laptop, saya seperti menemukan sedikit ilham. Ada tiga alternatif "pilihan hidup" yang saat itu langsung terpikirkan. "Kalau gua enggak ke dunia jurnalistik, kayaknya gua bisa jadi guru atau masuk dunia NGO deh".
Taraaa, 7 bulan kemudian, di salah satu halte Transjakarta, pikiran saya kembali mengingat hal itu. Dan di sinilah saya baru pulang kerja. Keluar dari salah satu kantor NGO, 45 menit lalu, sekitar pukul 7 malam.
Memasuki dunia kerja, sebagai newbie, banyak sekali perjalanan berharga. Salah satu pelajarannya adalah menerima ketidaksempurnaan. Menerima bahwa idealisme harus berbenturan dengan kenyataan-yang mana rasanya agak ngilu. Menerima, bahwa memperoleh pekerjaan itu tidak semulus yang dibayangkan. Haha.
Saya juga belajar mengerti, bahwa permasalah hidup semakin kompleks seiring bertambahnya tanggung jawab.
Belajar memahami bahwa yang hitam tidak seluruhnya hitam. Saya melihat begitu banyak keabu-abuan, terkadang oksimoron namun berjalan berdampingan. Bahwa tidak semuanya bisa di-kotak-kan dan dijustifikasi sebagai suatu kesatuan. Betapa indah (baca: rempong) keragaman pandangan hidup :)
Sesekali, ada perasaan menyesal. Bahwa saya tidak mengambil kesempatan untuk menjadi manusia lebih baik setiap harinya. Sedangkan, usia semakin bertambah, organ-organ tubuh bertambah tua. (Sebenarnya kalau menulis seperti ini saya jadi berpikir, apa sih yang saya kejar dari hidup yang terburu-buru ini?)
Semakin saya dewasa, semakin saya belajar akan arti kekuatan. Ya, kekuatan tentu penting untuk menjalankan hari dengan lebih seimbang, dengan lebih minim guncangan karena manajemen emosi dan mengambil keputusan lebih baik. (Ya tapi prinsip saya tetep sih, kalau mau nangis ya nangis aja, enggak usah ditahan. Mengakui kalau diri sedang sedih kan manusiawi. Namun, semakin waktu, rasa ingin menangis bila mengalami hal menyakitkan semakin berkurang, entah hati yang berubah jadi batu atau diri yang memang semakin kuat)
Pada fase ini saya belajar... ada kalanya egois harus sedikit dikurangi untuk menciptakan keseimbangan dalam interaksi. Saat ini saya juga belajar, betapa pentingnya ikhlas. Apapun yang diperjuangkan bila belum waktunya, maka tidak akan sampai (ya di fase ini saya mulai percaya pada takdir, pada doa. Bukannya dulu tidak percaya, dulu, bagi saya, sebuah kerja keras itu yang namanya doa. Sekarang saya tahu, betapa pentingnya meminta dengan ucapan dan hati lembut. Kalau temen saya yang agnostik sih bilangnya saya mulai lemah, akhirnya pasrah pada apa yang disebut takdir, ha-ha-ha).
Oya, di fase ini saya juga belajar, proses menjadi pribadi yang lebih lebih lebih baik lagi waktu belajarnya seumur hidup.
Saya belajar menerima bahwa hidup ini jauuuh dari kata sempurna. Untuk mendekati sempurna, kita harus bekerja keras. Namun, pikiran itu muncul lagi. Apa yang saya kejar dalam hidup ini?
Jika memang menggapai ridha Allah adalah jalannya, menjadi takwa adalah tujuannya, tepatkah jalan yang saya ambil ini?
Semoga.
Jangan berhenti menbar kebermanfaatan di muka bumi
Buktikan pada Allah, bahwa kala Ia ber-kun fa ya kun menciptakan diri ini,
Mungkin kita memang benar-benar memiliki sebuah peran di muka bumi
(Jadi inget, waktu saya di usia 5-6 tahun, saya pernah bertanya pada ibu "Kenapa sih Allah menciptakan kita? Untuk sekadar dibuat cerita ya kalau manusia pernah ada?" dan ibu saya malah memandangi saya. Mungkin beliau juga bingung jawab apa. Pikiran itu masih tampak nyata. Saat itu saya disuruh tidur siang, tapi mata saya memandangi pohon rambutan di luar jendela kamar)
Dari semesta kembali ke semesta
Lelah tak apa
Tapi ikhiar harus tetap dijalankan sampai mati


Comments
Post a Comment